Jumat, 24 April 2026
TPP Minahasa Selatan Bantu NTT
Kamis, 02 April 2026
Dulu Sakit, Kini Mulai Bangkit
Kisah BumDesa di Desa Yang Mulai Bangkit
Di beberapa Desa, BumDesa telah menjadi kekuatan ekonomi Desa bahkan mampu menyumbangkan Pendapatan Asli Desa yang sangat besar, namun di sebagian besar Desa BumDesa seolah "mati suri". Modal yang telah diserahkan ke pengurus BumDesa tak mampu dikelola dengan baik, ada juga modal yang kemudian menguap tanpa hasil. Sebuah analisa usaha yang tidak mempertimbangkan resiko. Bebagai persoalan mati suri BumDesa hampir terjadi di seluruh Desa, terutama Desa yang lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur Desa. Sebuah pilihan yang tidak salah namun seringkali mengabaikan lembaga ekonomi yang seharusnya menjadi kekuatan ekonomi Desa dan sumber pendapatan Desa lainnya disaat sumber dana pemerintah tak lagi bisa tutupi kebutuhan pembangunan Desa. Kemampuan pengurus dari sisi kualitas menjadi alasan klise beberapa Desa menjadi penyebab BumDesa tak berkembang.
![]() |
Kandang Ayam Petelur Desa Kopi bersama Sangadi Kopo |
Peran pengurus BumDesa harus lebih optimal dalam pengelolaan usaha serta mencari usaha lainnya dengan senantiasa melihat potensi yang bisa dikembangkan. Pendampingan juga terhadap pengurus BumDesa dan mengembangkan usaha harus lebih optimal. Pendampingan ini dimulai dari pemetaan potensi Desa, menyusun rencana usaha sampai dengan bagaiaman pengelolaan administrasi pengelolaan usaha. Tidak sampai di situ saja, pendampingan harus meliputi pencairan pasar terhadap produksi usaha BumDesa serta kerjasama pihak-pihak yang bisa membantu mengembangkan usaha BumDesa. (eSBe)
Senin, 12 Juni 2017
Bupati Sangihe Siap Turun ke Desa
Senin, 02 Februari 2015
SIDeKa Sebagai Upaya Menghadirkan Negara
- Pemerintah Pusat/daerah harus membuat regulasi terkait dengan system informasi Desa sebagai dasar/panduan Desa untuk membanguan system informasi Desa
- Pelembagaan system informasi desa harus termuat dalam regulasi yamg mengatur system informasi Desa.
- Penguatan/pemahaman pelaku pembangunan Desa tentang pengelolaan system informasi Desa dan Kawasan.
- Penguatan secara teknis tentang pengelolaan system informasi Desa dan Kawasan.
- Pemahaman tentang hal-hal yang berkaitan tentang system informasi.
- Fasilitasi regulasi tentang system informasi, baik di Daerah maun di Desa.
Perwujudan Sistem informasi Desa menempatkan pendamping pada posisi sebagai Fasilitator yang mampu memfasilitasi berbagai kalangan dalam rangkah terwujudnya system informasi Desa. Pada posisi ini, pendamping tidak sebagai pengambil keputusan, artinya seorang pendamping adalah orang/lembaga yang berperan memberi pemahaman tentang pentingnya system informasi Desa dan melatih keterampilan masyarakat untuk melakukan pengelolaan sisten informasi Desa. Pendampingan yang dilakukan oleh pendamping adalah mengkomunikasi terlebih dahulu tentang kegiatan ini ke Pemerintah Kabupaten sebagai upaya sosialisasi untuk mendapatkan dukungan setelah Pemerintah kabupaten memahami manfaat system informasi Desa, di sisi lain pendampingan ke Pemerintah Desa dan masyarakat harus dilakukan secara intens untuk memberi pemahaman dan keterampilan tentang system informasi Desa.
- Memahami tentang karakter pihak-pihak yang akan didampingi. Pemahaman karakter ini akan membawa kita pada strategi/teknik pendampingan yang bisa diterima oleh pihak yang didampingi, baik Pemerintah maupun masyarakat. Oleh karenanya pemahaman karakter ini harus dilakukan dengan komunikasi efektif dengan menggali sebanyak mungkin tentang informasi secara internal tentang pihak yang akan didamping. Di sisi lain penting juga menggali informasi dari pihak lain yang mengetahui tentang karakter dari kelompok masyarakat/pemerintah yang aka didampingi.
- Mengkomunikasikan apa yang akan dilakukan kepada pihak yang akan didampingi, sambil mensosialisasikan kepada stakeholders tentang manfaat kegiatan. Pada proses ini, perlu pemahaman pendamping tentang konsep atau yang menjadi krangka kegiatan dengan tujuan yang jelas sehingga kegiatan yang akan dilakukan bisa tersampaikan dengan baik dan diterima.
- Menjalin hubungan antar stakeholders adalah hal penting yang tak bisa diabaikan dalam proses pendampingan. Hal ini dibutuhkan agar dukungan dari semua pihak akan semakin banyak dan dengan demikian kegiatan yang akan didampingi tersebar luas kepada public dan tentu respon public ini akan bisa menjadi modal lain dalam proses pencapaian tujuan pendampingan.
- Komunikasi yang intens dengan semua pihak agar kegiatan ini akan terus menggaung, dan akan terus membangkitkan semangat yang akan terus ada pada pihak yang akan didampingai.
- Selalu melakukan evaluasi di setiap tahapan atau hasil yang dicapai,. Evaluasi ini dibutuhkan agar bisa mengetahui sejauh mana capaian dan apa saja kendala yang dihadapi untuk menyusun langkah strategis lainnya.
Kamis, 22 Agustus 2013
Perspektif Dasar Tentang Ruang Belajar
Ruang Belajar merupakan kegiatan untuk merangsang dan mengembangkan ide, cara, proses serta hasil belajar kolektif guna meningkatkan harkat dan derajat masyarakat.
Pengembangan diri masyarakat terjadi melalui relasi serta interaksi yang intens diantara manusia dan manusia dengan lingkungannya. Masyarakat senantiasa dinamis, berubah serta memiliki pengalaman unik pada setiap tempat baik secara sosial, budaya maupun ekonomi. Diharapkan dalam inplementasinya kegiatan RBM ini dapat terukur dengan terjadinya perubahan perilaku, pengetahuan, sikap dan kebiasaan baru. Perubahan baru bisa terjadi karena adanya pengalaman-pengalaman baik dari diri sendiri maupun orang lain atau kelompok lain yang bisa menjadi pengetahuan yang bisa bermanfaat bagi kehidupan sosial, budaya dan ekonomi.
Diharapkan nantinya RBM ini bisa dikembangkan sehingga menjadi wadah bagi masyarakat untuk saling memberi pembelajaran satu sama lain. Ruang Belajar Masyarakat inipun nantinya bisa dikembangkan dengan:
- Kondisonalisasi; artinya memberikan rangsangan melalui kegiatan pendukung (treatmen program)
- Kontekstualisasi; artinya pengembangan belajar berdasarkan masalah yang ada di lingkungan masyarakat sendiri
- Replikasi; artinya pengalaman-pengalaman yang didapat dari berbagai sumber dapat dikembangkan di tempat lain
- Modeling; mengembangkan pembelajaran dengan mengambil contoh-contoh kegiatan yang pernah ada.
Sayarat pokok pengembangan RBM
- Adanya basis komunitas/kelompok fokus belajar,
- Bermula dari pengalaman partisipasi
- Berproses melalui pendekatan terhadap masalah dan potensi lokal
- Didukung oleh para kader yang handal
Esensi Dasar RBM
1. Mengkontruksi
2. Inquiry
- Membangun keterkaitan antar unsur
- Pemahaman berasal dari pengalaman
Tidak sekedar mengamati, tetapi menjalani, berpikir secara kritis atas kenyataan.Memecahkan masalah yang dihadapi3. DriveKelompok inti RBM mendorong, membimbing dan mengembangkan model.4. Masayarakat Belajar5. Modeling
- Sekelompok orang yang tertarik dalam kegiatan belajar,
- Belajar bersama akan lebih baik daripada belajar sendiri,
- Saling berbagi pengalaman (hasil melakukan) bukan pengamatan,
- Saling berbagi
Proses menampilkan contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar6. RefleksiCara berpikir tentang apa yang telah dipelajari (ide, pengalaman baru, pemahaman baru), merekam apa yang telah dipelajari (ide, pengalaman baru, pemahaman baru), memformulasi (membuat buletin, karya seni, diskusi kelompok, dll)7. Authentic assesment (penilaian yang sebenarnya)
8. Capaian Perubahan Prilaku Partisipan Setelah Bergabung dengan RBM
- Evaluasi pengalaman dan pemahaman,
- Penilaian capacity,
- Trust building,
- Sinergy.
- Sadar dan sengaja
- Kontinuitas
- Fungsional
- Positif
- Pro aktif
- Bertujuan dan terarah
- Holistik/menyeluruh


.jpg)





